Jakarta – Memperingati HUT ke-81 TNI yang mengusung tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, penguatan pertahanan terus berjalan menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Modernisasi mencakup kekuatan laut dan udara, dari KRI Sriwijaya-100, kapal selam Scorpène, kendaraan tempur Marinir, hingga pesawat tempur Rafale.
Penambahan alutsista tersebut mendukung kesiapan TNI menjaga kedaulatan sekaligus memperluas kemampuan membantu masyarakat.
Di sektor udara, penerimaan Rafale dilakukan bertahap dari total pesanan 42 pesawat. Pesawat pertama telah dikirim pada awal 2026 sebagai bagian dari pembaruan kekuatan TNI AU.
Sementara itu, pembangunan dua kapal selam Scorpène dilakukan di galangan PT PAL Indonesia melalui kerja sama dengan Naval Group. Program ini mencakup transfer teknologi untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional.
Kekuatan laut juga bertambah dengan bergabungnya KRI Sriwijaya-100 sebagai kapal induk pertama TNI AL. Korps Marinir turut menerima 12 kendaraan tempur amfibi AAV M-35 dari rencana pengadaan 35 unit.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari mengatakan Prabowo mengarahkan modifikasi KRI Sriwijaya-100 agar mendukung pengoperasian helikopter dan pesawat nirawak. Arahan diberikan dalam rapat kabinet terbatas mengenai penanganan bencana pada 7 September 2026.
“Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan,” ujar Qodari.
Menurut Qodari, luasnya wilayah kepulauan Indonesia membutuhkan kemampuan menjangkau daerah terdampak bencana dengan cepat. Kapal tersebut diharapkan membantu pengerahan personel dan distribusi bantuan saat akses darat terhambat.
“Ini adalah bagian dari upaya membangun Indonesia yang semakin kuat, mandiri, tangguh, dan siap melindungi rakyat dalam setiap keadaan,” tutur Qodari.
Di tengah modernisasi tersebut, TNI menyiapkan perayaan ulang tahun secara sederhana. Kepala Pusat Pembinaan Mental TNI sekaligus Ketua Panitia Acara Doa Bersama Brigjen TNI Chandra Adibrata mengatakan acara puncak berupa upacara tanpa parade alutsista.
Chandra menjelaskan, sebagian besar pasukan masih menjalankan tugas di daerah, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan hingga evakuasi korban Kapal Virgo.
Penugasan itu menjadi pertimbangan penyelenggaraan peringatan tahun ini. Prajurit tetap dikerahkan untuk membantu penanganan berbagai kejadian yang membutuhkan dukungan TNI di lapangan.
“Jadi kita banyak melaksanakan kegiatan membantu perbantuan ke SAR dan lain-lain. Jadi makanya kita laksanakan lebih sederhana untuk tahun ini,” pungkasnya. (*)
